Gerakan kemandirian pangan yang dimulai pada tingkat tapak, dengan membangun sistem yang tangguh dari akar komunitas.
Perubahan iklim meningkatkan tekanan terhadap ketahanan pangan. Di sisi lain, fluktuasi harga bahan pokok hingga ketergantungan pada rantai pasok yang panjang membutuhkan pendekatan yang lebih kuat dari tingkat paling dasar: rumah tangga dan komunitas.
Program ini hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menggerakkan komunitas di tingkat RT/RW untuk menciptakan fondasi sistem pangan yang tangguh dan mandiri. Dimulai dengan pemanfaatan lahan terbatas, penguatan kapasitas, serta pendampingan berkelanjutan, komunitas didorong menjadi bagian dari solusi pangan. Tidak hanya sebagai konsumen, tapi sekaligus sebagai produsen.
Kemandirian pangan yang kuat, selalu dimulai dari tingkat tapak.
"Berpartisipasi secara aktif dalam upaya penguatan pangan nasional melalui penguatan produksi di tingkat rumah tangga, serta berbasis komunitas demi mendorong pemerataan dan percepatan."
Mendorong optimalisasi penggunaan pekarangan sebagai lahan pangan produktif di tingkat RT/RW.
Menyediakan pelatihan dan pendampingan teknis dengan model Training Of Trainers (ToT) untuk meningkatkan keterampilan produksi dan pengelolaan pangan.
Memperkuat jejaring dan kolaborasi di tingkat RT/RW untuk membangun sistem pangan lokal yang terintegrasi.
Mendorong adopsi praktik produksi pangan yang efisien dari sisi biaya, serta ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Menciptakan pemimpin-pemimpin ketahanan pangan baru di tingkat tapak dengan mengarusutamakan peran Ketua RT/RW.
Kami bekerja bersama Perusahaan (CSR/ESG), Donor, dan Pemerintah untuk menciptakan dampak jangka panjang bagi pesisir Indonesia.
Program ini mengadopsi pendekatan Training of Trainers (ToT) dengan menjadikan Ketua RT/RW sebagai agen penggerak utama dalam mendorong kemandirian pangan di wilayah kepemimpinan masing-masing.
Melalui pelatihan terstruktur, alih pengetahuan, dan pendampingan yang berkelanjutan, Ketua RT/RW dibekali kemampuan untuk mengoptimalkan pekarangan rumah (milik pribadi maupun komunal), mengembangkan kebun pangan, penerapan budidaya ternak yang sederhana, pembiayaan yang efisien, hemat energi, serta ramah lingkungan.
Pengetahuan ini kemudian dapat direpliki kepada warga untuk menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang memungkinkan implementasi adaptif ke seluruh wilayah Indonesia.
Produk unggulan hasil pemberdayaan dan olahan turunan mangrove dari mitra lokal.

Madu murni hasil nektar bunga bakau, dipanen secara lestari oleh komunitas pesisir.

Camilan tradisional bergizi tinggi dari olahan buah mangrove jenis Bruguiera.

Kain batik indah yang menggunakan ekstrak kulit batang mangrove yang gugur sebagai pewarna alami.
Kenali lebih dekat jajaran pengurus dan dewan pembina Yayasan Greenwave yang berdedikasi tinggi untuk keberlanjutan lingkungan.
Kami tidak sekadar menjalankan aktivitas, kami mengelola dampak yang terukur bagi ekosistem dan manusia. Mari wujudkan visi ini bersama.